Pengusaha vs Preman

Kisah nyata dari negeriku..

Seorang pengusaha tekstil dari sebuah kota di Sumatera telah beberapa tahun menyuplai barang-barang tekstil ke toko-toko di daerah Tanah Abang, Jakarta. Karena produknya begitu laris di daerah tersebut, pengusaha ini berniat melakukan ekspansi usahanya dengan membangun pabrik yang lebih dekat dengan Tanah Abang.

Ternyata rencana pengusaha ini sampai ke telinga penguasa (baca:  preman) daerah Tanah Abang dan mulailah beliau membujuk pengusaha tersebut untuk membangun pabriknya di daerahnya saja, dan sebagai timbal baliknya pengusaha itu tiap tahun akan menyetor pajak ke dia.

Namun pengusaha tersebut tahu kalau daerah Tanah Abang “kurang bersahabat” seperti:

  1. Bagaimana mau ke pabrik kalau jalannya begitu macet.
  2. Dapat dipastikan harus memberi upeti ke preman-preman daerah tersebut biar bisa dapat izin ini itu dari mereka.
  3. Belum lagi kalau ada kiriman material bangunan pasti harus memberi upeti lagi kepada preman-preman kuli bangunan, masih untung kalau cuma material bangunan, bagimana kalau mesin-mesin pabrik dan bahan-bahan tekstil tiba pasti dikenai upeti lagi dari preman-preman yang lain lagi,
  4. Begitu pabrik selesai harus setor lagi upeti ke preman-preman bagian keamanan.

“Sungguh ribet membangun pabrik di daerah Tanah Abang.. infrastruktur tidak bagus, harus mengurus izin ini itu izin iki iku, dan harus menyerahkan upeti ke sana ke sini ke situ”, kata pengusaha tersebut dalam hati.

Setelah berpikir panjang, akhirnya pengusaha tersebut memutuskan untuk membangun pabriknya di daerah lain saja yang tidak jauh dari Tanah Abang, walaupun bukan di daerah Tanah Abang langsung namun tidak ada preman-preman yang akan meminta upeti dan tidak memerlukan izin-izin yang tidak jelas dari preman-preman lainnya, dan tentunya jalanan ke pabrik lancar alias tidak macet.

Mendengar rencanan pegusaha tekstil tersebut, marahlah si penguasa daerah Tanah Abang itu dan mengancam pengusaha tersebut bila ingin memasukkan produknya ke daerah kekuasaannya, pengusaha tekstil tersebut harus membayar pajak. Bukan hanya itu saja, penguasa Tanah Abang itu baru menyadari, mengapa dari dulu tidak mengancam pengusaha-pengusaha lain juga supaya mau membangun pabrik-pabriknya di daerah kekuasannya. Padahal sebagai penguasa di daerah Tanah Abang, dia mestinya mengerti bawah telah lama ada perjanjian bahwa perdagangan di daerah kekuasannya dan sekitarnya terbebas dari pajak.

Entah mengapa, alih-alih berkaca melihat kekurangan diri sendiri dan mencari tahu penyebab para pengusaha tersebut tidak mau membangun pabriknya di daerah kekuasannya, si penguasa Tanah Abang tersebut malah marah-marah bak kambing kebakaran jenggot.

Inilah pertarungan antara RIM dan Menteri Keuangan, Anda tentu tahulah yang mana Pengusaha dan yang mana Preman.

Posted in Birokrasi | Leave a comment

Pengalaman Ganti BPKB Kendaraan Roda 4 (2/2)

Tibalah tanggal 23 Agustus, hari di mana kami harus mengambil BPKB yang baru.

Sebelumnya saya sudah mencari tahu di mesin mana harus mengambil nomor antrian dan di loket mana harus mengambil BPKP pada saat tanggal 10 Agustus tersebut. Dari yang saya baca di papan informasi, nomor antrian di ambil di mesin sebelah kanan pintu masuk dan setelah itu ke lantai 2 loket 11 dan 12.

Tidak mau mengulangi lagi pengalaman sebelumnya yang mendapakan nomor antrian 1495, kami tiba di tempat lebih pagi yaitu jam 10 kurang. Ternyata mesin antriannya mati, dan kami menanyakan petugas yang ada disitu, yang katanya tidak perlu pakai nomor antrian tapi langsung masukin aja tanda terima yang waktu itu ke loket (yang ternyata di loketnya lantai 1 juga bukan di lantai 2, papan informasinya salah donk.. :D).

Sambil menunggu kami bertanya2 kira-kira berapa lama ya harus menunggu? Apakah 3 jam juga seperti sebelumnya? Tapi… ternyata cuma sekitar 15-20 menit nama kami sudah dipanggil. Fiuhhh.. cepat jugaaa..

Selesai sudah proses birokrasi yang begitu panjang (disertai pungli sana sini) untuk balik nama mobil kami.. diawali dengan tarik berkas dari samsat lama, kemudian masukin berkas tersebut ke samsat yang baru sekalian buat STNK baru dan buat plat baru, dan terakhir ganti BPKB.

Akhirnyaaaa….

Posted in Birokrasi | 1 Comment

Pengalaman Ganti BPKB Kendaraan Roda 4 (1/2)

Setelah capek mengalami birokrasi mutasi kendaraan R4 yang berbelit-belit dan pungli di sana sini akhirnya kami sampai pada tahap akhir yaitu ganti BPKB. Seperti biasa saya googling dulu untuk mencari tahu mengenai prosedur pembuatan BPKB, dan betapa senangnya saya membaca di site TMC Metro kalau saat ini pengurusan BPKB cukup satu hari langsung jadi (link: http://www.tmcmetro.com/news/2011/01/urus-bpkb-akan-selesai-sehari dan http://www.wartakota.co.id/detil/berita/22582/Pengurusan-BPKB-Cuma-Sehari). Lain dari itu saya tidak menemukan site tentang prosedur pengurusan BPKB, tapi karena saya telah mendapat info kalau cuma sehari jadi ya pasti prosedurnya cepat dan tidak berbelit-belit.

Tanggal 10 Agustus meluncurlah kami ke Komdak di Gatot Subroto, dan tiba di tempat sebelum jam 11.30. Kami ke meja informasi dan dan diberitahu untuk mengambil nomor antrian di mesin dekat pintu masuk dan beli barcode di loket Bank BRI paling ujung kiri.

Tapi ternyata sial.. mesin nomor antrian sudah dimatikan jam 11.30 dan dibuka kembali jam 13.00 (kenapa juga coba pakai dimatiin mesinnya,  emang mesinnya perlu istirahat siang?!)

Jadinya kami memutuskan untuk makan siang dulu di Eletronic City dan kembali lagi sebelum jam 13.00. Pada saat tiba kembali untuk mengambil nomor antrian sebelum jam 13.00 (tepatnya di handphone saya jam12.50) ada seorang petugas wanita berkacamata dengan umur sekitar 27-33 tahun sedang menarik nomor antrian yang begitu banyak. Dan pas giliran kami mau mengambil lagi nomor antrian ternyata mesinnya sudah tidak mau mengeluarkan nomor lagi. Dan inilah dialog yang terjadi antara kami (K) dan wanita tersebut (W)

K: “Mbak, mesinnya rusak ya?”

W: “Iya, tadi error”. Sambil memberikan kami satu nomor antrian yang dipegangnya.

K: Nomor yang kami dapatkan adalah nomor 1495. “Mbak ini dah nomor yang paling kecil ya?”

W: “Iya, itu sudah yang paling kecil”. Sambil berlalu.

Setelah itu kami melihat nomor antrian saat itu ternyata masih di angka 1165!!! Jadi kami harus menunggu 330 nomor lagi???!!! Tapi apa boleh buat kami tidak berani menanyakan lagi karena wanita tersebut adalah petugas di situ (asumsi kami beliau bukan polisi karena hanya memakai tshirt biasa berwarna biru)

Kami jadi bingung apakah mau menunggu antrian sebanyak 330 ataukah pulang dan kapan-kapan balik lagi? Sebelum memutuskan kami ke loket Bank BRI dulu untuk menanyakan apakah kalau beli barcode sekarang harus dipakai hari ini atau bisa kapan2. Ternyata harus dipakai pada hari itu juga. Kami tanya lagi, tapi pasti bisa diproses ya hari ini karena nomor antrian kami 1495 tapi sekarang baru nomor 1165, apa gak keburu tutup? Kata petugas tersebut, nomor antrian hari ini pasti diproses hari ini kalau perlu buka sampai malam tapi biasanya sih cepat kok kalau sudah nomor2 terakhir. Ya sudah kalau begitu, dengan memegang kata-kata petugas itu, kami memutuskan untuk membereskan saja hari itu, antri-antri dah.. lagian kan langsung jadi dalam sehariiii… hahahaha.. Kami membayar 100rb untuk barcode sesuai dengan yang tertera di loket untuk barcode yang artinya TIDAK ADA PUNGLI di sini😉

Jam 4 teng yang artinya kami menunggu 3 jam!!! sampailah di nomor kami yang 1495 itu dan masih ada satu orang lagi menunggu dengan nomor antrian 1496. Jadi..?! nomor yang wanita tersebut berikan ke kami nomor yang paling kecil???!!! Gak salah???!!! Dan selama menunggu kami mengamati ternyata nomor antrian yang dekat-dekat ke 1495 ternyata masih ada. Jadi kenapa wanita itu mengatakan bahwa nomor yang diberikan ke kami sudah nomor yang terkecil?!

Jadi kami berasumsi atau bisa disebut berkesimpulan, wanita tersebut adalah CALO NOMOR ANTRIAN! Maafkan kami bila hal ini tidak benar tapi dari fakta yang kami lihat kami cuma dapat berasumsi demikian.

Setelah berkas kami diproses, kami diberi tanda terima dan harus balik lagi tanggal 23 Agustus untuk mengambil BPKB.. Mungkin “SEHARI”-nya Polda Metro Jaya itu 14 x 24 jam ya? Hehehe kami sudah tidak kaget lagi karena kami telah mengamati antrian-antrian sebelum kami, pulang dengan tidak membawa BPKB baru.

Kesimpulan: (1) Tidak ada pungli, cukup bayar 100rb untuk membeli barcode sesuai dengan yang tertera di loket. (2) Datang lebih pagi untuk mengambil nomor antrian. (3) 100 nomor antrian kira-kira memakan waktu 1 jam.

Posted in Birokrasi | 2 Comments

Ruhut dan Partai Demokrat

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, kenapa sih Partai Demokrat mau menerima seorang Ruhut Sitompul alias Bang Poltak ini? Apa sih kehebantan si abang satu ini? Setelah banyak komentar-komentarnya yang asal ngomong, kenapa sih Partai Demokrat (baca: SBY) tidak memecat saja si “raja minyak” ini?

Ruhut Sitompul yang lahir di Medan 57 tahun lalu ini yang bila berbicara sangat kental logat bataknya, sudah kita ketahui sering melontarkan kata-kata yang asal-asalan dan kalimat-kalimat yang asal bunyi yang kelihatannya tanpa dipikirkan terlebih dahulu yang tentunya secara sadar atau tidak membuat citra Partai Demokrat buruk di mata rakyat.

Contohnya di bulan Mei 2009 sewaktu acara diskusi “Mengungkap Strategi Tim Sukses Capres”, di acara tersebut hadir Ruhut Sitompul, Fuad Bawazier, dan Permadi, yang masing-masing mewakili tim sukses partainya. Di acara tersebut Ruhut sempat melontarkan kata-kata “Arab tidak pernah membantu Indonesia” yang tentunya hal ini menimbulkan kecaman dan reaksi keras dari masyarakat, khususnya kalangan keturunan Arab dan juga dari kalangan Islam.

Masih di tahun yang sama saat skandal kasus Bank Century “diributkan” di DPR, kita dapat melihat secara langsung di stasiun-stasiun TV bagaimana Ruhut melontarkan kata-kata yang kasar yang tidak patut dikeluarkan oleh seorang wakil rakyat yang katanya terhormat. Bahkan sampai ditayangkan berkali-kali oleh stasiun-stasiun TV lainnya.

Dan masih banyak  contoh-contoh lainnya seperti “Si Cina, Kwik Kian Gie”, “Yang tak setuju Soeharto jadi pahlawan cuma anak PKI”, “Ibu Ani capres (calon presiden) terkuat Partai Demokrat”. Dan yang paling gress adalah perang mulut Ruhut dan Mahfud MD. Gampangnya Anda bisa tanya Oom Google saja.

Balik lagi ke pertanyaan saya di awal? Kok Partai Demokrat tidak memecat beliau saja?

Saya teringat salah satu teman kerja saya dulu di bagian Marketing atau Sales atau istilahnya Account Executive. Teman saya itu pernah mempresentasikan tentang bagaimana membangun sebuah team penjualan (sales). Di dalam presentasinya itu, beliau membagi team sales-nya dalam 5 jenis karakter dimana karakter-karakter tersebut diwakilkan oleh 5 jenis anjing dengan karakter yang berbeda-beda pula.

Yang pertama adalah Pit Bull yang mewakili karakter agresif dan attack and go (serang dan pergi. Yang kedua adalah Poodle yang mewakili karakter elegant dan selalu mengutamakan penampilan. Yang ketiga adalah Golden Retriever yang mempunyai karakter loyal dan selalu ingin menyenangkan tuannya. Yang keempat adalah Chi Wawa yang mempunyai karakter selalu menyalak (berbicara). Dan yang kelima adalah Basset Hound yang memiliki tampang sedih yang membuat orang menjadi kasihan bila melihatnya.

Dari kelima karakter di atas mungkin Anda sudah bisa menebak atau punya pendapat masing-masing Ruhut Sitompul cocok dengan karakter yang mana. Secara pribadi dapat saya katakan bahwa Ruhut Sitompul adalah masuk ke dalam “jenis” Pit Bull.

Seperti acara diskusi “Mengungkap Strategi Tim Sukses Capres” tadi, pada saat partainya diserang dengan pernyataan bahwa Boediono adalah Neolib, Ruhut dengan “pintarnya” menyerang balik dengan kata-kata “Arab”. Atau misalnya pada saat panja skandal Bank Century di DPR, Ruhut (yang sengaja dikirim oleh Partai Demokrat) dengan “pintarnya” membuat “keributan” untuk mengacaukan konsentrasi para anggota panja lainnya. Atau melemparkan wacana Ibu Ani  sebagai capres terkuat 2014, yang menurut saya hanya memancing reaksi partai-partai lain dan hanyan membuat “kemeriahan” kecil sebelum 2014.

Jadi kesimpulan saya adalah memang tidak ada salahnya bila Partai Demokrat (baca: SBY) masih mau “memelihara” seseorang seperti Ruhut Sitompul ini yang mempunyat karakter agresif dan bila partainya diganggu maka beliau diperlukan untuk melakukan penyerangan.

Bagaimana? Apakah Anda setuju?

Posted in Politik | Tagged , | Leave a comment

Prosedur Balik Nama dan Mutasi DETABEK Kendaraan Roda 4

Postingan saya kali ini merupakan rangkuman dari postingan-postingan saya sebelumnya tentang pengalaman saya mengurus sendiri balik nama dan mutasi mobil istri saya di Jakarta Utara ke Ciputat Tangerang. Semoga bermanfaat!

1. Siapkan semua berkas-berkas yang diperlukan:

  • BPKB asli dan fotocopy
  • STNK asli dan fotocopy
  • Kwitansi pembelian dan fotocopy (tanggal pembelian dikosongkan saja dulu karena batas waktu dari tanggal tersebut sampai pengurusan balik nama tidak boleh terlalu lama, tetapi jangan lupa sebelum di-fotocopy diisi dulu tanggalnya hehe)
  • KTP pemilik baru dan fotocopy
  • (Cukup) Fotocopy KTP pemilik sebelumnya
  • Materai TIDAK DIPERLUKAN
  • Pena JANGAN SAMPAI KETINGGALAN

Disarankan fotocopy rangkap dua buat jaga-jaga.

2. Temukan dan bersihkan nomor rangka dan nomor mesin kendaraan Anda supaya nanti di lokasi tidak merepotkan.

3. Sekarang Anda siap ke SAMSAT di mana kendaraan tersebut terdaftar (bisa dilihat di STNK) untuk cabut berkas. Untuk Jakarta Barat di SAMSAT Daan Mogot dan untuk Jakarta Utara dan Jakarta Pusat di SAMSAT Gunung Sahari (seberang Mangga Dua Square / JITEC). Untuk yang lainnya bisa Anda SMS ke 1717 (dari pengalaman saya, langsung dijawab ;))

3. Ke loket cek fisik untuk mendaftar dengan menyerahkan fotocopy KTP pemilik lama dan STNK asli (BPKB asli/fotocopy saya lupa perlu atau tidak) dan petugas akan memberikan form kecil beserta stiker untuk gosok nomor rangka dan nomor mesin.

4. Bawahlah kendaraan Anda ke bagian cek fisik untuk gosok nomor rangka dan nomor mesin (karena di form tersebut perlu tanda tangan petugas, saya ragu untuk menggosok sendiri, lagian mesin mobil saya masih panas :D). Di sini saya kasih tip 5000 untuk petugas gosoknya.

5. Serahkan kembali form dan stiker tadi ke loket sebelumnya dan tunggu nama Anda dipanggil. Jangan lupa siapkan uang 30rb-40rb untuk biaya siluman😉

6. Setelah Anda menerima form hasil cek fisik, saya sarankan untuk di-fotocopy terlebih dahulu. Dan sesuai petunjuk dari petugas, Anda diminta ke lantai 3 (SAMSAT Daan Mogot) atau lantai 2 (SAMSAT Gunung Sahari). Di loket BBN (balik nama) serahkan berkas yang diminta (saya tidak ingat berkas apa saja) dan Anda akan diberikan form berwarna biru yaitu formulir permohonan STNKuntuk diisi data-data mobil dan data-data pemilik kendaraan sebelumnya. (saya heran, kan mau cabut berkas kenapa mesti isi form itu ya?)

8. Setelah diisi, kembali ke loket sebelumnya dan serahkan semua berkas yang diminta. Dan selanjutnya ke loket mutasi antar daerah atau DETABEK.

9. Sesuai pengalaman saya di SAMSAT Gunung Sahari, sebelum ke loket mutasi, Anda diminta untuk ke “Loket Computer Khusus”. Jangan lupa siapkan gocengan untuk biaya siluman😉

10. Selanjutnya ke loket mutasi dan semua berkas Anda akan diambil kecuali BPKB Asli dan Adan akan diberikan fotocopy BPKB dan focopy STNK yang sudah distempel (karena STNK Asli Anda ditahan). Diberikan juga tanda terima dan diminta kembali 3 hari lagi. Jangan lupa siapkan lagi 175rb untuk biaya siluman😉

11. 3 hari (atau boleh lebih) Anda kembali lagi ke loket yang sama (loket mutasi) dan berkas-berkas dikembalikan plus surat keterangan pindah pengganti STNK dan kemudian diminta ke lantai 3 ke loket fiskal.

12. Di loket fiskal Anda akan diberikan surat keterangan bahwa telah melunasi pajak kendaraan sampai dengan tanggal sekian. Dan siapkan uang 15rb untuk biaya siluman ;)(Sekali lagi saya heran untuk apa surat keterangan ini? Kan sudah ada bukti stempel di STNK sudah bayar pajak atau belum, kalau memang belum ya jangan dikasih surat keterangan pindah, kenapa mesti pakai surat fiskal lagi?)

13. Setelah itu Anda menuju ke loket arsip di lantai dasar. Di sini Anda akan mengambil semua berkas mobil yaitu faktur pembeliandan lain-lain. Dan janga lupa siapkan lagi 10rb untuk biaya siluman😉

Tahap pertama sudah Anda lewati yaitu cabut berkas!

GILA YA BIROKARSINYA..?!

Selanjutnya Anda ke SAMSAT di mana kendaraan Anda akan didaftarkan, sesuai dengan alamat KTP Anda. Misalnya alamat Anda di Serpong ke SAMSAT BSD, misalnya alamat Anda di Ciputat ke SAMSAT Ciputat, lebih jelasnya Anda bisa SMS ke 1717 atau tanya om Google😀

Berikut ini adalah prosedur di SAMSAT Ciputat:

1. Saya sarankan semua berkas yang sudah Anda dapatkan  di-fotocopy terlebih dahulu (kalau perlu di-scan) karena semua berkas tersebut akan diserahkan ke SAMSAT yang baru. Dan siapkan juga semua fotocopy BPKB, KTP, STNK, Kwitansi dan lain-lain bila sudah tidak ada, buat jaga-jaga saya bila diminta.

2. Di SAMSAT yang baru, pertama-tama ke loket cek fisik dulu untuk legalisir form hasil cek fisik dari SAMSAT yang lama. Jangan lupa siapkan lagi biaya siluman😉 Lalu jangan fotocopy hasil legalisir tersebut (sangat diperlukan untuk pembuatan BPKB di Komdak)

3. Selanjutnya Anda ke loket pembuatan STNK dan plat baru (loket BBN I?). Serahkan semua berkas yang diminta dan Anda akan diberikan tanda terima untuk kembali lagi 2 hari kemudian. Janga lupa siapkan sekitar 70rb untuk biaya siluman😉

4. 2 hari kemudian Anda balik lagi ke loket yang sama dan akan diberikan kwitansi untuk pembayaran PKB dan lain-lain.

5. Ke loket Kasir untuk melakukan pembayaran, jangan lupa siapkan dulu uangnya jadi tidak lama di depan loket kasir karena ada antrian.

6. Setelah kwitansi di-stempel, Anda tinggal menunggu untuk diberikan STNK yang baru.

7. Sambil menunggu, siapkan fotocopy form hasil cek fisik dan fotocopy kwitansi pembelian karena akan diminta sebelum diberikan STNK baru. Mereka cuma mau pastikan Anda sudah punya fotocopy-nya karena diperlukan untuk pengurusan BPKB di Komdak dan aslinya sudah diambil oleh mereka.

8. Sesudah Anda mendapatkan STNK yang baru selanjutnya Anda ke loket penyerahan plat (TNKB). Di sini Anda serahkan STNK yang baru dan menunggu agak lama (15-20 menit) sebelum plat nomor baru Anda diberikan. Karena Ciputat masih dibawah otoritas Polda Metro Jaya, maka plat Anda tetap ‘B’.

Akhirnya beres juga pendaftaraan kendaraan Anda di SAMSAT yang baru.

Benar-benar birokrasi yang berbelit-belit.. Kenapa kita harus berpindah dari loket satu ke loket yang lainnya ya? Tidak dibuat loket IN dan OUT saja? Kita tinggal isi form data-data yang diperlukan dan keperluan kita apa beserta lampirkan semua berkas yang diperlukan, selajutnya diproses di dalam, dan hasilnya kita terima dan bayar.. beres bukan?

Selajutnya Anda harus ke Komdak (Gatot Subroto) untuk pengurusan BPKB.

To be continue…

Posted in Birokrasi | Tagged , , , | 12 Comments

Pengalaman di SAMSAT STNK Ciputat Tangerang (5/5)

Lewat 3 hari, kali ini saya sendirian ke SAMSAT Ciputat karena istri saya sedang mudik, sambil was-was juga jangan-jangan mesti pakai surat kuasa. Tapi buat jaga-jaga, saya membawa SIM C istri saya karena KTP dan SIM A-nya diperlukan untuk mudik.

Begitu sampai di tempat, saya langsung menuju ke lantai 2 kembali ke loket yang sama (loket BBN I) dan menyerahkan tanda terima yang diberikan 3 hari yang lalu. Setelah menunggu kira-kira 7 menit, nama istri saya disebut dan saya diberi kwitansi pembayaran PKB dan lain-lain dan diminta ke loket kasir. Kali ini tidak dipungli lagi karena 3 hari sebelumnya sudah dipungli 70rb😀

Sebeleum ke kasir, saya siapakan dulu uang pas buat jaga-jaga tidak dikasih kembalian.. hahaha. Tapi saya perhatikan ternyata dari semua yang bayar semuanya dikasih kembalian alias TIDAK DICATUT. SIP! Setelah tiba giliran, saya serahkan uang pembayaran sesuai dengan yang tertera di kwitansi dan diminta menunggu di loket sebelah alias loket penyerahan STNK.

Di loket ini kurang lebih saya menunggu 10 menit dan nama istri saya dipanggil tapi dengan sebutan Bapak hahaha. Saya ditanya apa sudah ada fotocopy form cek fisik dan kwitansi pembelian? Untung saya sudah fotocopy sebelumnya jadi tidak perlu lagi repot ke tempat fotocopy. Fotocopy ini diperlukan untuk pengurusan BPKB di Komdak. Dan kali ini BEBAS PUNGLI juga! SIP!

Selesai dari sini, saya turun ke lantai 1 untuk mengambil plat nomor yang baru. Setelah menyerahkan STNK dan menunggu agak lama, sekitar 20 menit, dan berharap-harap cemas apakah hari ini akan bebas pungli??? Saya dipanggil dan diserhkan plat batu sambil diminta cek ulang apalah sudah benar atau belum dan lega rasanya akhirnya selesai juga dan TIDAK ADA PUNGLI HARI INI!

Selanjutnya harus ke Komdak untuk mengurus BPKB baru. Yang saya baca di blog biaya resminya “hanya” 80rb, apakah benar demikian??? Tunggu tulisan saya selanjutnya😉

Posted in Birokrasi | Tagged , | Leave a comment

Pengalaman di SAMSAT STNK Ciputat Tangerang (4/5)

Setelah lewat hari Sabtu dan Minggu, Senin hari ini kami ke SAMSAT Tangerang yang tadinya kami kira di SAMSAT BSD karena itulah SAMSAT yang terdekat dari rumah kami.

Sesampainya di SAMSAT BSD dan mengisi formulir biru (sama dengan formulir biru sebelumnya tapi kali ini  diisi dengan  data pemilik  STNK yang baru), selanjutnya kami ke bagian cek fisik untuk (LAGI-LAGI) legalisasi tapi karena ternyata alamat kami masuk ke kecematan Ciputat maka kami harus ke SAMSAT Ciputat di jalan RE Martadinata no.10 Ciputat Pamulang.

Berangkatlah kami ke SAMSAT Ciputat sambil melihat-lihat peta terlebih dahulu karena belum pernah sama sekali ke daerah Ciputat Pamulang.

Di SAMSAT Ciputat kami langsung ke lantai 2 ke loket BBN I dan menyerahkan semua berkas dari SAMSAT Jakarta Utara dan kami diminta (seperti biasa) untuk legalisasi form cek fisik terlebih dahulu di lantai dasar di bagian belakang gedung.

Setelah menyerahkan form di loket cek fisik dan menunggu sekitar 5 menit, nama istri saya dipanggil dan LAGI-LAGI diminta biaya 10rb TANPA DIBERI KWITANSI alias PUNGLI!

Kami kembali lagi ke lantai 2 untuk menyerahkan form cek fisik tadi. Kami diberi tanda terima dan diminta untuk balik lagi 2 hari kemudian untuk mengambil STNK dan Plat Nomor baru, tetapi karena pas kena di hari raya jadi baru bisa 3 hari lagi. Dan LAGI-LAGI diminta biaya 70rb TANPA DIBERI KWITANSI alias PUNGLI! Padahal petugas tersebut tidak kerja apa, hanya menerima berkas dan memberi tanda terima!

Ternyata mau di Jakarta atau di Tangerang ternyata TIDAK BEBAS PUNGLI! karena masih di area POLDA METRO JAYA. Bagaimana nih Bu Atut??

Dari cerita ipar saya yang tinggal di Bandung, waktu mengurus mutasi kendaraan dari Jawa Tengah, semua transaksi yang dilakukan jelas biayanya dan diberi kwitansi dan malah dihimbau untuk tuntuk tidak memberikan tip sepeser pun. SALUT BUAT KAPOLDA JAWA BARAT!

Tunggu cerita saya selajutnya setelah mengambil  STNK dan plat nomor yang baru, apakah akan kena pungli lagi???

Posted in Birokrasi | Tagged , | 1 Comment